Rabu, Juni 03, 2009

KUTIPAN DALAM SEBUAH KARANGAN

KUTIPAN
by Karsam Sunaryo
Indonesian Language for English major
STKIP KN

1. Tujuan membuat kutipan
Dalam penulisan-penulisan ilmiah, baik penulisan artikel-artikel ilmiah, karya-karya tulis, maupun penulisan skripsi dan disertasi, seringkali dipergunakan kutipan-kutipan untuk menegaskan isi uraian, atau untuk membuktikan apa yang dikatakan.
Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seorang pengarang, atau ucapan seseorang yang terkenal, baik terdapat dalam buku-buku maupun majalah-majalah. dan yang sudah dikenal atau sudah ditulis dalam buku-buku tidak perlu diselidiki lagi.
Walaupun kutipan atas pendapat seorang ahli itu diperkenankan tidaklah berarti bahwa sebuah tulisan seluruhnya dapat terdiri dari kutipan-kutipan.
Garis besar kerangka karangan, serta kesimpulan-kesimpulan yang dibuat merupakan pendapat penulis sendiri
Kutipan-kutipan hanya berfungsi sebagai bahan bukti untuk menunjang pendapat penulis
2. Jenis Kutipan
Menurut jenisnya, kutipan dapat dibedakan atas kutipan langsung dan kutipan tak langsung {kutipan isi) .
Kutipan langsung adalah pinjaman pendapat dengan mengambil secara lengkap kata demi kata, kalimat demi kalimat dari sebuah teks asli.
Kutipan tak langsung adalah pinjaman pendapat seorang pengarang atau tokoh terkenal berupa inti sari atau ikhtisar dari pendapat tersebut.
Perbedaan antara kedua jenis kutipan ini harus benar-benar diperhatikan karena akan membawa konsekuensi yang berlainan bila dirnasukkan dalam teks.
Dalam hubungan ini cara mengambil bahan-bahan dari buku-buku pada waktu mengumpulkan data, akan sangat membantu. Bila penulis menganggap perlu memasukkan kutipan yang panjang, maka lebih baik memasukkannya dalam bagian Apendiks atau Lampiran.
Di samping kutipan yang diambil dari buku-buku atau majalah-majalah, ada pula kutipan yang diambil dari penuturan lisan. Penuturan lisan ini bisa terjadi melalui wawancara atau ceramah-ceramah. Namun kutipan semacam ini dalam karya-karya ilmiah akan kurang nilainya kalau disajikan begitu saja. Agar nilainya lebih dapat dipertanggungjawabkan, maka harus dimintakan pengesahannya lagi dari orang yang bersangkutan.

3. Prinsip-prinsip Mengutip
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan pada waktu membuat kutipan adalah :
a. Jangan mengadakan perubahan
Pada waktu melakukan kutipan langsung, pengarang tidak boleh mengubah kata-kata atau teknik dari teks aslinya. Bila pengarang menganggap perlu untuk mengadakan perubahan tekniknya, maka ia harus menyatakan atau memberi keterangan yang jelas bahwa telah diadakan perubahan tertentu. Misalnya dalam naskah asli tidak ada kalimat atau bagian kalimat yang diletakkan dalam huruf miring (kursif) atau digaris-bawahi, tetapi oleh pertimbangan penulis kata-kata atau bagian kalimat tertentu itu diberi huruf tebal, huruf miring, atau diregangkan.
Pertimbangan untuk merubah teknik itu bisa bermacam-macam :
untuk memberi aksentuasi. contoh, pertentangan dan sebagainya.
Dalam hal yang demikian penulis harus memberi keterangan dalam tanda kurung segi empat [. . .] bahwa perubahan teknik itii dibuat sendiri oleh penulis, dan tidak ada dalam teks aslinya, Keterangan dalam kurung segi empat itu misalnya berbunyi sebagai berikut: [huruf miring dari saya, Penulis].

b. Bila ada kesalahan
Bila dalam kutipan terdapat kesalahan atau keganjilan, entah dalam persoalan ejaan maupun dalam soal-soal ketatabahasaan, penulis tidak boleh memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. la hanya mengutip sebagaimana adanya. Demikian pula halnya kalau penulis tidak setuju dengan suatu bagian dari kutipan itu.
Dalam hal terakhir ini kutipan tetap dilakukan, hanya penulis diperkenankan mengadakan perbaikan atau catatan terhadap kesalahan tersebut. Perbaikan atau catatan itu dapat ditempatkan sebagai catatan kaki, atau dapat pula ditempatkan dalam tanda kurung segi empat [. . .] seperti halnya dengan perubaban teknik sebagai telah dikemukakan di atas. Catatan dalam tanda kurung segi empat itu langsung ditempatkan di belakang kata atau unsur yang hendak diperbaiki, diberi catatan, atau yang tidak disetujui itu. Misalnya, kalaukita tidak setuju dengan bagian itu, maka biasanya diberi catatan singkat : [ sic! ]. Kata sic! yang ditempatkan dalam kurung segi empat menunjukkan bahwa penulis tidak bertanggungjawab atas kesalahan itu, ia sekedar mengutip sesuai dengan apa yang terdapat dalam naskah aslinya,
Coba perhatikan contoh berikut:
"Demikian juga dengan data bahasa yang lain dalam karya tulis ini kami selaIu berusaha mencari bentuk kata yang mengandung makan [sic! ) sentral/distribusi y.ang terbanyak sebagai bahan dan daftar Swadesh."

Kata makan dalam kutipan di atas sebenarnya salah cetak; seharusnya makna. Namun dalam kutipan, penulis tidak boleh langsung memperbaiki kesalahan itu. la harus memberi catatan bahwa ada kesalahan, dan ia sekedar mengutip sesuai dengan teks aslinya. Untuk karya-karya ilmiah penggunaan sic! dalam tanda kurung segi empat yang ditempatkan langsung di belakang kata atau bagian yang bersangkutan, dirasakan lebih mantap.

c. Menghilangkan bagian kutipan
Dalam kutipan-kutipan diperkenankan pula menghilangkan bagian-bagian tertentu dengan syarat bahwa penghilangan bagian itu tidak boleh mengakibatkan perubahan makna aslinya atau makna keseluruhannya. Penghilangan itu biasanya dinyatakan dengan mempergunakan tiga titik berspasi [. . .] .Jika unsur yang dihilangkan itu terdapat pada .akhir sebuah kalimat, maka ketiga titik berspasi itu ditambahkan sesudah titik yang mengakhiri kalimat itu. Bila bagian yang dihilangkan itu terdiri dari satu alinea atau lebih, maka biasanya dinyatakan dengan titik-titik berspasi sepanjang satu baris halaman. Dalam hal ini sama sekali tidak diperkenankan untuk menggunakan garis penghubung.[ -] sebagai pengganti titik-titik . Bila ada tanda kutip. maka titik-titik itu, baik pada awal kutipan maupun pada akhir kutipan, harus dimasukkan dalam tanda kutip sebab unsur yang dihilangkan itu dianggap sebagai bagian dari kutipan.
Contoh
Hal ini cocok dengan kehidupan para kepala itu sebagai pemimpin masyarakat, tetapi juga sebagai pemirnpin upacara-upacara keagamaan. Kata Mallinckrot: ". . . in primitieve streken is werkzaamheid "van het hoofd met betrekking tot de godsdienst een zijner voomaamste functies en de rechtspraak, op bovenbedoelde wijze opgevat, wordt een ten deele religieuze verrichting, die het magisch evenwicht der gemeensehap herstellen moet.” 1

4. Cara-cara mengutip
Perbedaan antara kutipan langsung dan kutipan tak langsung (kutipan isi) akan membawa akibat yang berlainan pada saat memasukkannya dalam teks. Begitu pula cara membuat kutipan langsung akan berbeda pula menurut panjang pendeknya kutipan itu. Agar tiap-tiap jenis kutipan dapat dipahami dengan lebih jelas, perhatikanlah cara-cara berikut :

a. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris
Sebuah kutipan langsung yang panjangnya tidak lebih dari empat baris ketikan, akan dimasukkan dalam teks dengan cara-cara berikut :
(1) kutipan itu diintegrasikan langsung dengan teks;
(2) jarak antara baris dengan baris dua spasi;
(3) kutipan itu diapit dengan tanda kutip;
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah spasi ke atas. atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor haIaman tempat terdapat kutipan itu .

footnote:
1 R.M; Koentjaraningrat. Beberapa Metode Antropologi, (Djakarta. 1958). hal. 355. Teks sudah disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan

Nomor urut penunjukan mempunyai pertalian dengan nomor urut penunjukan yang terdapat pada catatan kaki. Nomor penunjukan ini bisa berlaku untuk tiap bab, dapat pula berlaku untuk seluruh karangan tersebut. Masing-masing cara tersebut akan membawa konsekuensi tersendiri. Pada nomor urut penunjukan yang hanya berlaku pada tiap bab :
(1) Pada tiap bab akan dimulai dengan nomor urut 1;
(2) Untuk penunjukan yangpertama dalam tiap bab, nama pengarang harus disebut secara lengkap, sedangkan penuniukan selanjutnya dalam bab tersebut cukup dengan menyebut nama singkat pengarang, ditambah penggunaan singkatan-singkatan ibid., op. cit., atau loco cit. 2. Sebaliknya bila nomor urut penunjukan berlaku untuk seluruh karangan, maka hanya untuk penyebutan yang pertama, nama pengarang ditulis secara lengkap; penyebutan selanjutnya hanya mempergunakan nama singkat, dan singkatan-singkatan sebagaimana tersebut di atas.
Misalnya :
Guru tak dapat memperhatikan muridnya seorang demi seorang. Dalam seminar "The teaching of modern languages" oleh sekretariat UNESCO di Nuwara Eliya, Sailan, pada bulan Agustus 1953 dikatakan: Because of the very special nature of language, teaching us well on general educational grounds, it is vital that classes should be small" (hal. 50). Untuk waktu yang . . . 3

Jadi kalimat Because of the very special nature of language, . .. dst. merupakan suatu kutipan, tetapi kutipan itu tidak lebih dari empat baris ketikan. Oleh karena itu kutipan itu harus diintegrasikan dengan teks, serta spasi antara baris adalah spasi rangkap. Tetapi sebagai pengenal bahwa bagian itu merupakan kutipan, maka bagian itu ditempatkan dalam tanda kutip.
..Bila mempergunakan cara yang kedua, maka sesudah kutipan langsung ditempatkan nama pengarang (singkat), tahun, dan halaman dalam kurung.

footnote:
3 Harimurti Kridalaksana Seminar Bahasa Jndorresia 1968, (Ende, 1971), hal. 225 -226
3 Singkatan ibid., op. cit., dan loc. cit. Biasanya digunakan untuk menyebut karya yang sudah disebut dalam penunjukan sebelumnya. Keterangan Iebih lanjut Iihat bab mengenai catatan kaki.

b. Kutipan langsung yang lebih dari empat baris
Bila sebuah kutipan terdiri dari lima baris atau lebih, maka seluruh kutipan itu harus digarap sebagai berikut:
(1) kutipan itu dipisahkan dari teks dalam jarak 2,5 spasi;
(2) jarak-antara baris dengan baris kutipan satu spasi;
(3) kutipan itu boleh atau tidak diapit dengan tanda kutip; -,
(4) sesudah kutipan selesai diberi nomor urut penunjukan setengah
spasi ke atas, atau dalam kurung ditempatkan nama singkat pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat terdapat kutipan itu;
(5) seluruh kutipan itu dimasukkan ke dalam 5 -7 ketikan; bila kutipan itu dimulai dengan alinea baru, maka baris pertama dari kutipan itu dimasukkan lagi 5 -7 ketikan.
Kadang-kadang terjadi bahwa dalam kutipan itu terdapat lagi kutipan. Dalam hal ini dapat ditempuh dua cara :
(1) mempergunakan tanda kutip ganda [". .."] bagi kutipan asli dan tanda kutip tunggal ['. . :] bagi kutipan dalam kutipan itu, atau sebaliknya ;
(2) bagi kutipan asli tidak dipergunakan tanda kutip, sedangkan kutipan dalam kutipan itu mempergunakan tanda kutip ganda.
Untuk jelasnya, perhatikanlah ketiga coritoh berikut! Masihg-masing memperlihatkan kutipan langsung yang mempergunakan tanda kutip, yang tidak mempergunakan tanda kutip, dan yang mempergunakan dua jenis tanda kutip.
Contoh a : Mempergunakan tanda kutip
………………………………………………………………………………………………
Terjemahan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia banyak yang tidak memuaskan karena para penterjemah tidak terlatih dalam ilmu penterjemahan (suatu aspeklinguistik terapan yang telah menjadi disiplin ilmiah tersendiri).
Misalnya salah satu terjemahan buku ilmu pengetahuan populer diprakatai dengan :
"Suatu fikiran yang telah tersebar dengan luas sekali di kalangan orang banyak menggambarkan buku-buku sebagai benda-benda yang tak berjiwa, tidak effektif [sic!], serba damai yang pada tempatnya sekali berada dalam kelindungan-kelindungan sejuk dan ketenangan akademis dari biara-biara dan universitas-universitas dan tempat-tempat pengasingan diri yang lain yang jauh dari dunia yang jahat dan materialistis ini" (Asrul Sani 1959:7).
Buku aslinya berbunyi……………………………………………………………………

Contoh b: Tidak mempergunakan tanda kutip
Contoh di atas dapat pula ditempatkan dalam bagian tersendiri dengan tidak mempergunakan tanda kutip. Dalam hal ini tidak akan timbul keragu-raguan. Karena bagian yang dikutip ditempatkan agak ke dalam, serta jarak antara baris adalah spasi rapat. Perhatikan bagaimana cara menulis kutipan di atas tanpa mempergunakan tanda kutip :
………………………………………………………………………………………………
Terjemahan karya ilmiah dalam bahasa Indonesia banyak yang tidak memasukan, k.arena para penterjemah tidak terlatih dalam iImu pen………


Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa inti dari teks tersebut di atas sebenamya adalah suatu sari dari uraian yang lebih panjang,

d. Kutipan pada catatan kaki
yaitu kutipan yang ditempatkan pada catatan kakidengan selalu menempatkan dalam spasi rapat, singkat,selalu dimasukkan dalam tanda kutip, dan dikutip tepat seperti teks aslinya.

Walaupun di atas telah dikemukakan juga bahwa kutipan yang panjang sekali lebih baik ditempatkan dalam Apendiks atau Lampiran, namun ada juga pengarang yang beranggapan bahwa kutipan semacam itu lebih baik "ditempatkan pada catatan kaki, agar lebih mudah bagi pembaca untuk memeriksanya.
Contoh:
………………………………………………………………………………………………
Berbagai penyelidikan tentang akulturasi yang dilakukan oleh para sarjana ilmu anthropologi-budaya bangsa Amerika memang telah menunjukkan bahwa penyelidikan-penyelidikan akan peristiwa perpaduan kebudayaan yang dipandang dari sudut kompleks-kompleks unsure-unsur yang khusus, telah memberi hasil yang memuaskan. Karena itu Herskovits beranggapan bahwa pandangan serupa itulah pandangan yang paling berguna di dalam penyelidikan akulturasi. 2
…………………………………………………………………………………………….7
Pada catatan kaki halaman yang sama, di bawah nomor urut penunjukan 2 dapat dibaca sebuab kutipan langsung seperti di bawah ini:

2 Kata beliau: "However desirable studies of changes in ‘whole culture’ may thus be, it seems most advantageous in practice for the student to analyse into its components the culture that has experienced contact... one can no more study 'whole cultures' than one take as the subject for a specific research project the human body in its entirety. . ." (M.J. Herskovits, 1948:536)

kutipan itu dibuat dalam spasi rapat; kata 'whole culture' mempergunakan tanda kutip tunggal, karena tanda kutip ganda sudah dipergunakan untuk seluruh kutipan itu. Perhatikan bagaimana bagian-bagian yang ditinggalkan dari teks asli diganti dengan tiga titik berspasi.

e. Kutipan atas ucapan lisan
Dalam karya-karya ilmiah atau tulisan-tulisan lainnya, sering pula dibuat kutipan-kutipan atas ucapan-ucapan lisan, entah yang diberikan dalam ceramah-ceramah, kuliah-kuliah atau wawancara-wawancara. Sebenarnya kutipan atas sumber semacam ini sulit dipercaya, kecuali mungkin ucapan yang disampaikan seorang tokoh yang penting dalam suatu kesempatan yang luar biasa, serta dapat diikuti oleh masyarakat luas.
Bila penulis ingin memasukkan juga kutipan-kutipan semacam itu di dalam tulisannya, maka sebaiknya ia memperlihatkan naskah kutipan itu terlebih dahulu kepada orang yang memberi keterangan itu untuk .mendapatkan pengesyahannya. Kalau ada kekurangan atau kesalahan dapat diadakan perbaikan terlebih dahulu oleh yang bersangkutan. Dengan demikian tidak perlu timbul bantahan atau hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
Sumber ucapan-ucapan lisan itu dapat dimasukkan langsung dalam teks, dapat pula dimasukkan dalam catatan kaki seandainya akan mengganggu jalannya teks itu sendiri.
Cara yang pertama :
………………………………………………………………………………………………
Dalam menjawab nota Keuangan & RAPBD Daerah Khusus Ibukota tahun 1973. tanggal 2 Pebruari 1973, Gubemur Ali Sadikin mengatakan a.l. : “… Tetapi apabila kita jujur berkenan melihat persoalan itu………….

pendapat yang dikutip itu dari segala sudut. Kutipan-kutipan itu akan turut meletakkan dasar-dasar bagi kesimpulan yang akan diturunkannya, baik dalam bab tersebut, maupun yang akan direkapitulasinya dalam kesimpulan terakhir dari tulisan itu.
Kadang-kadang orang-orang terpesona dengan ucapan-ucapan atau fakta-fakta yang diajukan oleh orang-orang yang tinggi kedudukannya seolah-olah itu adalah seluruh kebenaran yang harus diikuti tanpa mengadakan penilaian sejauh mana ucapan itu dapat diterima. Begitu pula ahli-ahli yang kenamaan bisa saja membuat kesalahan tertentu. Semua yang ditulis dalam buku, belum tentu dapat diterima seluruhnya. Sebab itu mengutip sebuah pendapat baru harus disertai kebijaksanaan dan ketajaman, untuk bisa mempertanggungjawabkannya seolah-olah pendapat sendiri, bukan lagi pendapat pengarang yang dikutip.

1 komentar:

Irwan mengatakan...

Berkunjung, mencari ilmu dan wawasan baru :-)
Nice Post :-)

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini